Bubble economic: A Result of Dishonest Marketing (baca:Selling) (1)

Istilah bubble sejak dua tahun terakhir ini sering sekali didengung-dengungkan oleh para ahli di bursa saham. Banyak para analis mengatakan bahwa index harga saham di Indonesia dan beberapa bursa Asia terutama bursa Shanghai naik terlalu tajam. Kenaikan ini ditenggarai karena banyaknya aliran dana dari asing yang masuk ke bursa saham di emerging country. Apakah bubble economic tersebut hanya terjadi di pasar finansial?

Tapi ternyata bubble economic ini tidak hanya terjadi di pasar finansial. Krisis sub-prime mortgage yang dimulai sejak tahun lalu merupakan salah satu contoh dari bubble economic. Banyak properti di amerika yang dijual kepada konsumen yang memiliki risk profile yang tinggi. Sebenarnya konsumen itu tidak layak untuk mendapatkan kredit perumahan, akan tetapi lembaga-lembaga keuangan mengambil kebijakan untuk memberikan kredit tersebut dengan bunga yang tinggi. Alhasil di kemudian hari ternyata banyak diantara konsumen ini yang tidak mampu membayar dan akhirnya properti tersebut ditarik kembali oleh pihak bank.

Masalah tersebut tidak berakhir di sini. Properti tersebut tidak dapat dijual dengan mudah yang berakibat lembaga keuangan tersebut mengalami kesulitan likuiditas. Pasar properti di amerika terus mengalami kelesuan yang dibuktikan dengan menurunnya penjualan properti dari bulan ke bulan. Hal ini terjadi juga salah satunya diakibatkan oleh menurunnya daya beli dari masyarakan amerika yang dipicu oleh kenaikan harga komoditas.

Di Indonesia hal ini belum terlalu terlihat. Tidak di pasar properti. Tapi jika kita hendak melihat lebih dalam, pasar otomotif terutama sepeda motor ternyata mengalami hal yang serupa. Tahun 2003-2005, pasar sepeda motor mengalami perkembangan yang sangat pesat. Salah satu penyebab hal ini adalah dengan diberikannya uang muka yang rendah kepada konsumen. Uang muka dapat mencapai hanya 0% alias tanpa uang muka betul-betul membuat para konsumen memanfaatkannya dengan antusiasme tinggi. Akan tetapi…akhirnya karena ketidakmampuan untuk membayar tersebut-entah karena sengaja maupun tidak- membuat banyak sekali sepeda motor yang harus ditarik kembali oleh pihak lembaga pembiayaan (leasing).

Dapat diduga akhirnya pihak lembaga pembiayaan banyak yang mengalami kesulitan likuiditas yang berujung pada dibatasinya pemberian kredit. Tingkat risiko yang diberikan pihak lembaga pembiayaan terhadap konsumen semakin tinggi. Pihak dealerpun mengalami kesulitan untuk menjual produknya. Dan lebih parah lagi sepeda motor yang ditarik dari konsumen tersebut entah berapa banyak yang dapat ditampung oleh pasar kendaraan bekas.

Bubble yang lain juga terjadi dalam produk perbankan, yaitu kartu kredit. Demikian mudah seseorang memiliki banyak kartu kredit sedangkan penghasilannya tidak besar. Syarat untuk memiliki kartu kredit adalah minimum penghasilan. Akan tetapi minimum penghasilah itu berlaku untuk semua kartu kredit. Terang saja satu orang bisa memiliki beberapa kartu kredit yang pada akhirnya pagu dari kredit tersebut menjadi lebih besar dari penghasilannya.

Jika yang bersangkutan adalah orang yang melek finansial, ya mungkin masalah yang timbul akan minimal. Akan tetapi bagaimana jika konsumennya itu adalah orang yang tidak melek finansial ditambah habit yang konsumtif. Alhasil dari 8 kartu kredit yang dimiliki, bisa2 delapan delapannya sudah overlimit.

Penyebab utama terjadinya bubble economic adalah sifat manusia yang greedy. Sifat greedy ini mempunyai sisi positip dan negatip. Sisi positipnya dengan sifat greedy ini manusia selalu terpacu untuk maju dan berkembang. Akan tetapi dibalik sisi positip ini adalah bagaimanakan caranya si manusia ini maju dan berkembang. Banyak sekali cara yang digunakan manusia dalam mencapai kemajuan dan perkembangan ini dengan menghalalkan berbagai macam cara. Hal inilah yang membuat sifat greedy ini menjadi negatip.

Manusia dalam konteks pembicaraan kita ini adalah salesperson. Tenaga penjual yang digunakan oleh perusahaan. Merekalah ujung tombak dari perusahaan. Di sinilah fraud dalam perusahaan banyak terjadi. Dan pada akhirnya dari sinilah timbul bubble economic. Contoh fraud yang lazim digunakan adalah pemalsuan dari data-data calon konsumen. Konsumen yang seharusnya tidak memenuhi minimum risk requirement akhirnya dengan “memodifikasi” data, konsumen tersebut menjadi layak untuk mendapatkan produk tersebut.

Kontradiksi antara marketing dan sales adalah masalah segmentasi. Dalam marketing telah ditentukan konsumen segmen mana yang seharusnya layak dan mampu untuk membeli produk tersebut, akan tetapi dalam praktek penjualan di lapangan, para salesperson cenderung untuk menjual kepada siapapun juga. Para salesperson diberikan insentip bila telah melakukan penjualan (baik secara volume atau jumlah rupiah tertentu). Hal inilah yang membuat mereka hanya mengejar insentip tersebut.

Tinggalkan komentar

Filed under economic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s